Aliansi Gereja Papua Bentuk HONAI, Desak Stop Kekerasan dan Buka Akses Kemanusiaan

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 15/09

JAYAPURA — Gereja-gereja di Tanah Papua meneguhkan komitmen bersama dengan meluncurkan wadah kemanusiaan bernama HONAI atau Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (West Papua Humanitarian Crisis Centre). Langkah ini diambil sebagai respons atas krisis kemanusiaan yang berkepanjangan akibat konflik bersenjata di berbagai wilayah Papua, yang berdampak langsung pada masyarakat sipil dan pengungsi internal (Internally Displaced Persons).

Kegiatan launching HONAI ini dilaksanakan pada Selasa, 15 September 2026, mulai pukul 10.00 WIT sampai dengan selesai, bertempat di Kantor Sinode GKI Di Tanah Papua, No. 09, Argapura, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua.

Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th., menegaskan bahwa kehadiran lembaga ini lahir dari kesadaran mendalam atas penderitaan nyata yang dialami oleh masyarakat di akar rumput. Di balik setiap angka korban dan pengungsi, terdapat manusia dan keluarga yang menghadapi ketakutan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, serta mengalami keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan. Penderitaan tersebut tidak boleh dianggap sebagai keadaan yang biasa atau normal, dan tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar angka statistik.

Pelayanan HONAI berakar pada panggilan iman gereja untuk menjaga kehidupan dan melindungi martabat manusia. Gereja memandang tindakan merawat yang terluka dan menerima mereka yang kehilangan tempat berlindung sebagai bagian tak terpisahkan dari tindakan iman serta pelayanan pastoral.

Sebagai rumah bersama kemanusiaan, HONAI beroperasi berdasarkan prinsip netralitas, keadilan sosial, solidaritas, pemberdayaan berbasis masyarakat lokal, serta sinergi lintas sektor tanpa membedakan suku, agama, maupun posisi politik.

Kerja bersama HONAI difokuskan langsung pada perlindungan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar, serta penyediaan dukungan psikosial dan ruang aman bagi penyintas, terutama perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan.

Selain itu, HONAI bergerak dalam konsolidasi data kemanusiaan yang faktual, penguatan kolaborasi dengan pemerintah, lembaga keagamaan, masyarakat sipil, dan mitra internasional, hingga pemberdayaan sosial-ekonomi pengungsi serta mobilisasi sumber daya demi memastikan keberlanjutan pelayanan.

Melalui rilis resmi ini, HONAI menyerukan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk segera membuka akses kemanusiaan seluas-luasnya, menjamin perlindungan bagi pekerja kemanusiaan, dan menempatkan dialog kemanusiaan sebagai jalan utama penyelesaian konflik.

HONAI juga mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil, menghormati hukum humaniter, dan memberikan ruang aman bagi pelayanan kemanusiaan di lapangan.

Di samping itu, HONAI mengajak media lokal, regional, nasional, maupun internasional untuk turut memberitakan situasi Papua secara berimbang, mendalam, dan senantiasa menggunakan perspektif kemanusiaan.

Seluruh elemen rakyat Indonesia, lembaga kemanusiaan, dan komunitas internasional diundang untuk membangun solidaritas nyata guna memulihkan manusia di Papua dengan cara melindungi kehidupan, mendengarkan suara korban, dan memastikan para pengungsi dapat kembali menjalani kehidupan yang aman serta bermartabat. (QB)