Dusun Sagu Terancam Punah, Kaka Jose Desak Perubahan Pola Pikir Pemerintah dan Masyarakat Papua

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 22/04

JAYAPURA – Pelestarian hutan dan dusun sagu di tanah Papua kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Sagu yang secara historis memiliki peradaban panjang serta menjadi lumbung pangan (food estate) asli bagi orang Papua, perlahan mulai kehilangan posisinya sebagai makanan pokok akibat perubahan pola konsumsi masyarakat.

Motivator dan Trainer Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi anak-anak muda Orang Asli Papua (OAP), Jose Alvan Ohee atau yang akrab disapa Kaka Jose, seorang tokoh penggerak dan motivator pemuda Papua, menyoroti fenomena ini dengan tajam. Menurutnya, konsumsi sagu di kalangan masyarakat asli Papua telah bergeser dan kini lebih sering dijumpai hanya pada saat acara keluarga atau pesta adat tertentu saja. Padahal, potensi turunannya seperti KKV dan Sinole sangat luar biasa dan sangat diminati.

Kerusakan Lingkungan dan Alih Fungsi Lahan

Sebagai anak asli Sentani, Kaka Jose mengungkapkan rasa penyesalan yang mendalam atas kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Danau Sentani. Ia menyayangkan masifnya alih fungsi hutan dan dusun sagu, yang mana laju penghabisan lahan jauh lebih cepat daripada upaya penanaman kembali.

“Sagu itu tidak tumbuh dalam waktu satu atau dua tahun, ini proyek jangka panjang. Oleh karena itu, perlu ada gerakan masif dari semua pihak untuk mengembalikan kejayaan dusun sagu di Papua,” tegas Kaka Jose.

Soroti Kebijakan dan Pola Pikir Pemerintah

Kaka Jose juga mengkritisi cara berpikir serta komitmen dari jajaran pemerintah daerah setempat terkait keberpihakan terhadap sumber daya lokal.

  • Cara Pandang Pemimpin: Kebijakan harus dimulai dari hati. Pemerintah harus benar-benar mencintai sagu, bukan sebaliknya justru terlibat dalam memuluskan penghabisan lahan sagu.
  • Kasus Pengundulan Sagu Raja: Ia menceritakan kasus nyata hilangnya hutan “Sagu Raja” di belakang Polsek Sentani Timur untuk rencana pembangunan Stadion Papua Bangkit (Stadion Lukas Enembe) pada masa Pra-PON. Ironisnya, setelah hutan sagu tersebut digusur, lokasi proyek stadion justru dipindahkan ke tempat lain.

“Orang tua kita dulu mengajarkan dan membesarkan kita dengan makan sagu. Bagaimana mungkin sekarang kita yang menikmati hidup dari warisan tersebut justru tega membiarkannya habis? Pola pikir inilah yang harus kita ubah bersama,” tambahnya.

Momentum Festival Sagu April 2026

Guna mendobrak kebuntuan dan memantik semangat baru, Kaka Jose sangat mengapresiasi upaya Kakanwil Kemenkumham Papua, Bapak Anthonius Ayorbaba, yang menginisiasi konsep kegiatan pada tanggal 24–26 April.

Melalui festival tersebut, Kaka Jose berharap:

  • Penghargaan bagi Pelaku Lokal: Menumbuhkan rasa bangga bagi masyarakat adat Papua agar tidak merasa termarjinalkan dan melihat tingginya nilai ekonomi dari warisan leluhur mereka.
  • Mendorong UMKM dan Pengusaha Asli Papua: Membuka keran pemasukan baru bagi Provinsi Papua melalui pengolahan pangan lokal yang sangat dicari oleh dunia internasional.
  • Kolaborasi Berkelanjutan: Menjadi stimulan bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah provinsi, dan lembaga non-pemerintah (NGO) untuk terlibat lebih aktif dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.

“Saya diminta untuk memberi booster di acara nanti. Tugas saya adalah membuka pikiran dan memberikan semangat ‘ke atas’ kepada pemerintah terkait regulasi, serta ‘ke bawah’ kepada masyarakat akar rumput untuk terus menjaga hak ulayat dan kedaulatan pangan kita,” tutupnya dengan penuh optimisme. (QB)