Mengurai Kunci Sukses IKM Kota Jayapura: Mengapa Pelatihan Saja Tak Cukup?

Spread the love

Disertasi Doktor Uncen Ungkap Rahasia di Balik Kinerja Industri Kecil & Menengah: Kedisiplinan dan Budaya Usaha Menjadi Penentu Utama

tvpapua.com, Jayapura, 25/08

JAYAPURA — Pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Jayapura mencatatkan lonjakan yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Jayapura, jumlah unit usaha IKM melesat dari 340 unit usaha pada tahun 2025 menjadi sekitar 555 unit usaha pada tahun 2026. Ribuan unit usaha ini tersebar di lima distrik utama, yaitu Jayapura Selatan, Jayapura Utara, Abepura, Heram, hingga Muara Tami, dengan menopang berbagai sektor mulai dari kuliner, pengolahan hasil perikanan dan pertanian, kerajinan tangan, fesyen, hingga industri rumah tangga.

Namun, di balik angka pertumbuhan unit usaha yang menggembirakan tersebut, sebuah riset doktor terbaru dari Universitas Cenderawasih (Uncen) membongkar kenyataan krusial: peningkatan kompetensi dan pelatihan tidak otomatis mendongkrak motivasi kerja maupun kinerja pelaku usaha jika tidak diimbangi dengan kedisiplinan dan budaya organisasi yang kuat.

Studi empiris mendalam ini disusun oleh Achmad Nur Saichul Ma’arif, mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, di bawah bimbingan tim promotor Prof. Dr. Yohanis Rante, Dr. Westim Ratang, dan Dr. Arius Kambu. Dengan melibatkan 233 responden pelaku IKM yang dipilih secara purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) via SmartPLS 4, riset ini berhasil memetakan faktor-faktor penentu daya saing IKM di Jayapura.

Kesenjangan Pelatihan dan Realita Lapangan

Salah satu temuan paling mengejutkan sekaligus menarik dari riset ini adalah kenyataan bahwa kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pelaku IKM.

Dari total 233 responden, tercatat hanya 70 pelaku usaha (30,04%) yang pernah mengikuti pelatihan kewirausahaan. Sementara itu, ada 93 responden (39,91%) yang menerapkan hasil pelatihan dalam kegiatan usaha mereka secara konsisten. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari seminar atau pelatihan tidak secara otomatis membakar dorongan internal (motivasi) para pelaku usaha.

Sebagian besar IKM di Kota Jayapura masih berskala kecil dengan keterbatasan modal dan tenaga kerja. Motivasi harian pelaku usaha lebih banyak dipacu oleh kebutuhan ekonomi mendesak serta tuntutan keberlangsungan hidup ketimbang materi pelatihan yang pernah diikuti. Kompetensi terbukti berfungsi memberikan ability to perform (kemampuan melakukan pekerjaan), tetapi belum tentu menciptakan willingness to perform (dorongan dorongan internal untuk terus berkembang) jika tidak didukung oleh lingkungan usaha yang kondusif dan fasilitas penerapan ilmu.

Disiplin dan Budaya Usaha: Motor Penggerak Utama Motivasi & Kinerja

Berbeda dengan kompetensi, riset Doktor Achmad Nur Saichul Ma’arif menemukan bahwa Disiplin dan Budaya Organisasi memegang peranan vital yang sangat dominan. Kedua faktor ini terbukti berpengaruh positif dan signifikan, baik secara langsung terhadap kinerja usaha maupun secara tidak langsung melalui variabel mediasi motivasi kerja.

Ringkasan Temuan Model Struktural Penelitian:

  • Pengaruh Kompetensi: Berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Kinerja IKM (koefisien 0,303), namun berpengaruh tidak signifikan terhadap Motivasi Kerja (koefisien -0,011) serta tidak signifikan secara tidak langsung melalui motivasi (VAF 1,11%).
  • Pengaruh Disiplin: Berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap Motivasi Kerja (koefisien 0,494) dan Kinerja IKM (koefisien 0,213). Motivasi kerja terbukti memediasi secara parsial dengan nilai Variance Accounted For (VAF) sebesar 45,52%.
  • Pengaruh Budaya Organisasi: Berpengaruh positif dan signifikan terhadap Motivasi Kerja (koefisien 0,428) dan Kinerja IKM (koefisien 0,247). Motivasi kerja memediasi secara parsial dengan nilai VAF sebesar 38,40%.
  • Motivasi Kerja: Berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja IKM (koefisien 0,346) dan menjadi pendorong utama produktivitas.
  • Daya Jelaskan Model (R^2): Kombinasi variabel dalam model mampu menjelaskan 86,0% variasi kinerja IKM di Kota Jayapura.

Kedisiplinan—yang tercermin dari ketepatan waktu produksi, penataan jadwal kerja, kerapian pencatatan keuangan, hingga konsistensi menjaga mutu produk—mampu memberikan rasa pencapaian beruntun (experience of success) yang meningkatkan motivasi pelaku usaha. Begitu pula dengan budaya usaha yang menekankan kejujuran, pelayanan pelanggan, inovasi, serta kerja sama tim, terbukti mampu membangun atmosfer kerja yang produktif.

Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Kota Jayapura

Implikasi praktis dari riset doktor ini memberikan sinyal tegas bagi Pemerintah Kota Jayapura dan para pemangku kepentingan. Pembinaan IKM di Jayapura tidak lagi bisa mengandalkan metode konvensional yang sebatas menggelar pelatihan massal. Disertasi ini merekomendasikan reorientasi strategi pembangunan IKM melalui pendekatan ekosistem integratif:

  • Reorientasi Program Pelatihan: Pelatihan harus berbasis kebutuhan riil dan diintegrasikan dengan pendampingan pascapelatihan (post-training mentoring) agar keterampilan benar-benar diterapkan.
  • Penguatan Disiplin Manajerial: Memberikan pembinaan intensif pada penataan manajemen dasar, seperti pembukuan keuangan terpisah, standar prosedur operasi (SOP) sederhana, dan efisiensi waktu produksi.
  • Pembentukan Budaya Usaha Modern: Mengakselerasi transformasi budaya usaha kekeluargaan tradisional menjadi budaya yang berorientasi pada mutu, pelayanan konsumen, dan inovasi tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal.
  • Dukungan Ekosistem Hulu-Hilir: Membangun ekosistem bisnis yang solid mencakup pasokan bahan baku, kemudahan legalitas, fasilitasi kemasan, pendampingan pemasaran digital (digital marketing), hingga pembukaan akses pasar dan jaringan pembiayaan.

Agenda Riset Masa Depan

Meskipun model penelitian ini mampu menjelaskan 86,0% variasi kinerja IKM di Kota Jayapura, peneliti mencatat beberapa keterbatasan karena menggunakan desain cross-sectional.

Untuk menyempurnakan sisa variasi kinerja yang belum terjelaskan, riset selanjutnya direkomendasikan untuk memanfaatkan pendekatan longitudinal serta memasukkan variabel-variabel krusial lainnya:

  • Akses pembiayaan dan perbankan
  • Tingkat digitalisasi usaha
  • Orientasi kewirausahaan dan kapasitas inovasi
  • Gaya kepemimpinan dan jejaring usaha (business networking)
  • Intensitas dukungan pemerintah dan kemudahan akses pasar