GKI di Tanah Papua: Tetapkan 29 Juli Hari Disabilitas, Gandeng Trainer Solo Berdayakan Difabel Bikin Kaki Palsu Mandiri

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 29/07

JAYAPURA – Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua resmi menetapkan tanggal 29 Juli sebagai Hari Doa Syukur Disabilitas melalui sebuah ibadah perdana yang bersejarah di Graha SARA, Jayapura, Rabu (29/07/2026). Langkah ini menjadi tonggak awal penyatuan gerakan pelayanan disabilitas yang selama ini masih berjalan sendiri-sendiri atau terfragmentasi.

Wakil Ketua I Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua sekaligus Ketua Panitia, Pdt. Hiskia Rollo, S.Th., MM., mengungkapkan bahwa penetapan tanggal ini lahir dari proses demokrasi (voting) usai pelaksanaan pelatihan pendampingan disabilitas di 70 klasis pada 28–29 Juli 2025 lalu.

“Melalui keputusan bersama di tahun pelayanan kesehatian ini, kita berkomitmen untuk menyatukan langkah. Kita satu padukan gerakan ini untuk dirayakan bersama, dimulai dari tahun ini,” ujar Pdt. Hiskia Rollo

Inklusivitas Tanpa Batas: Kolaborasi Lintas Agama dan Suku

Pelaksanaan Hari Disabilitas pertama ini mengusung misi kemanusiaan yang inklusif dan mendobrak sekat-sekat perbedaan. Selain menggelar seminar online bersama akademisi teologi UKDW, panitia mendatangkan Kuncoro, seorang ahli ortotik prostetik muda asal Solo, Jawa Tengah, untuk melatih para penyandang disabilitas di Papua.

Pdt. Hiskia Rollo menegaskan bahwa pelayanan disabilitas yang dilakukan GKI bersifat universal tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

“Pak Kuncoro ini orang Jawa dan beragama Islam. Beliau datang kemari tanpa melihat sekat perbedaan. Terinspirasi dari hal itu, GKI di Tanah Papua menegaskan bahwa pelayanan disabilitas yang kami lakukan harus bersifat tanpa batas. Penerima manfaatnya mencakup seluruh elemen kerukunan umat beragama, baik Muslim, Hindu, maupun Buddha,” jelasnya.

Mandiri Bikin Kaki Palsu Sendiri dari Bahan Lokal Papua

Momentum hari syukur ini ditandai dengan penyerahan 7 unit alat bantu protesis kepada para penerima manfaat. Uniknya, alat bantu tersebut diproduksi langsung oleh tangan-tangan terampil penyandang disabilitas Papua melalui metode gotong royong di bawah bimbingan Kuncoro.

Kuncoro merincikan, 7 unit bantuan yang diserahkan meliputi:

  • 2 unit kaki palsu bawah lutut (standar)
  • 2 unit kaki palsu atas lutut
  • 1 unit tangan palsu atas sikut
  • 2 unit kaki palsu lokal bawah lutut

“Nah, yang sedang saya kembangkan dan dorong di sini adalah yang jenis lokal. Mengapa? Karena ternyata semua potensi bahan baku yang dibutuhkan itu ada di Papua. Dengan menggunakan bahan lokal, harganya bisa ditekan seminimal mungkin dan bahannya sangat mudah didapat,” urai Kuncoro.

Kuncoro menambahkan, dalam kondisi normal, pembuatan satu unit kaki palsu bawah lutut memakan waktu 7–8 hari, sedangkan untuk atas lutut membutuhkan 10–14 hari. Namun, karena materi pelatihan dipadatkan, proses pengerjaan dilakukan bersama secara ‘keroyokan’.
Tujuan utama pelibatan langsung para penyandang disabilitas ini adalah aspek kemandirian jangka panjang.

“Tujuan utama program ini adalah memberikan ruang dan peluang bagi teman-teman disabilitas agar mereka bisa berkarya membuat kaki palsu sendiri, jadi tidak perlu terus-menerus bergantung atau pergi ke Jawa,” tegas instruktur asal Solo tersebut.

Program pemberdayaan ini dipastikan akan terus berlanjut. Pihak Sinode GKI bahkan telah menjadwalkan pelatihan gelombang kedua pada September mendatang guna mematangkan keahlian para mentor dan perajin disabilitas lokal di Tanah Papua. (QB)