Mengintip Perjuangan Mama Yosina Yenusi, Pengrajin Piring Lidi Asal Kepulauan Aruri Supiori

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 26/06

SUPIORI — Perjuangan seorang ibu demi masa depan anak-anaknya tidak pernah mengenal batas usia dan lelah. Prinsip hidup ini dipegang teguh oleh Mama Yosina Yenusi (63), yang berdomisili di Kampung Rayori (Sowek), Distrik Kepulauan Aruri, Kabupaten Supiori.

Melalui keahlian jemarinya menganyam lidi pohon kelapa menjadi piring bernilai jual, ia mampu menopang roda ekonomi keluarga secara mandiri.

Saat diwawancarai pada Selasa (23/6/2026), perempuan paruh baya ini membagikan kisah inspiratifnya dalam merintis dan mempertahankan usaha kerajinan tangan lokal tersebut selama kurang lebih empat tahun terakhir.

Proses Pembuatan yang Mandiri dan Alami

Seluruh proses produksi piring lidi ini dikerjakan sendiri oleh Mama Yosina, mulai dari tahap pencarian bahan baku. Ia masuk keluar kebun untuk mengumpulkan lidi yang berasal dari pohon kelapa. Selain lidi, komponen lain yang dibutuhkan adalah tali hutan sebagai pengikat dasar.

“Kalau tidak ada tali hutan, saya pakai tali rafia. Itu saja bahan bakunya. Terus kalau selesai dianyam, harus dibelikan pernis lagi baru di-vernis supaya dia bisa bertahan lama, kuat, dan kelihatan rapi serta bagus,” ujar Mama Yosina.

Untuk piring ukuran besar, pengerjaannya memakan waktu satu hari penuh dari pagi hingga sore hari. Sementara untuk piring ukuran kecil, jika sedang fokus dan tidak terganggu pekerjaan rumah tangga lainnya, Mama Yosina mampu merampungkan dua hingga tiga buah piring dalam sehari.

Mengandalkan Sistem Pesanan Lokal

Piring lidi hasil karya Mama Yosina dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Untuk piring makan ukuran standar dihargai Rp10.000 per buah, sedangkan untuk ukuran yang lebih besar dipatok dengan harga Rp15.000 per buah.

Sejauh ini, pemasaran kerajinan tangan tersebut masih terbatas di lingkup wilayah Papua saja. Mama Yosina juga hanya memproduksi piring jika ada permintaan masuk agar modal swadayanya berputar dengan efisien.”Saya jual kalau ada yang perlu saja. Mereka pesan, baru Mama anyam. Jadi produksinya memang tergantung pesanan saja,” katanya.

Menopang Kebutuhan Keluarga

Bagi Mama Yosina, kerajinan anyaman lidi ini merupakan urat nadi perekonomian yang sangat krusial. Sebagai ibu dari enam orang anak, seluruh pendapatan dari hasil penjualan piring lidi langsung dialokasikan untuk keperluan buah hatinya.

“Hasil penjualan ini digunakan untuk bayar uang sekolah anak-anak, uang jajan mereka, keperluan sehari-hari, dan juga untuk membeli bahan baku pelengkap lainnya,” ujar Mama Yosina.

Kendala Regenerasi Pengrajin

Meski produk piring lidi ini memiliki potensi pasar yang baik, Mama Yosina mengaku kesulitan menemukan penerus yang bisa mewarisi keahliannya. Menganyam piring lidi rupanya membutuhkan teknik tinggi yang tidak mudah dikuasai oleh pemula. Ia sempat berinisiatif menularkan kemampuan ini kepada warga sekitar, namun proses belajar tersebut belum membuahkan hasil karena tingkat kerumitan anyaman.

“Mama dengan adik Mama sudah pernah ajarkan ke beberapa ibu di sini, tapi mereka tidak bisa. Mereka setengah mati (kesulitan) untuk melingkari bagian dasar piring itu. Kuncinya memang sulit di bagian dasarnya,” katanya. (QB)