Kisah Inspiratif Theodora Mambrasar: Merajut Baju Tari dari Kulit Kayu Manduam di Tengah Keterbatasan Alat

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 26/06

Supiori — Kreativitas dan kecintaan terhadap budaya tidak melulu harus lahir dari fasilitas yang mewah. Hal ini dibuktikan secara nyata oleh Theodora Mambrasar (47), seorang pengrajin lokal berbakat yang mendedikasikan dirinya untuk melestarikan pakaian adat Papua melalui inisiatif mandiri yang luar biasa.

Tanpa modal bantuan ataupun bimbingan sanggar, perempuan kelahiran tahun 1979 ini sukses menciptakan baju tarian tradisional bernilai estetika tinggi. Uniknya, seluruh proses pembuatan pakaian ini ia kerjakan secara manual menggunakan bahan alami yang ia cari sendiri.

Berawal dari Inisiatif Sendiri di Tengah Hutan

Saat ditemui di kediamannya, Theodora menceritakan seluruh proses produksi kerajinan tangan ini bermula dari langkah kakinya ke dalam hutan. Ia mengumpulkan kulit pohon dari jenis kayu khusus yang dikenal dengan nama kayu Manduam.

“Saya sendiri pergi ambil di hutan, bawa kemari sendiri kulitnya dari pohon kayu manduam. Jadi diambil kulitnya, selesai itu diiris-iris,” ungkapnya hangat, Selasa (23/6/26).

Setelah proses pengirisan kulit kayu selesai, lembaran-lembaran tersebut dianyam dengan teknik manual yang menyerupai pembuatan noken. Hasil anyaman tersebut kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah baju tarian yang cantik, lengkap dengan hiasan kepala yang juga ia rancang sendiri.

Semua karya indah ini lahir murni dari kreativitas dan kemauan pribadinya. Ia menegaskan tidak ada sosok khusus yang menginspirasinya, melainkan murni dari dorongan hati untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan acara adat bagi generasi muda di sekitarnya.

Menjadi Langganan Sewa Anak Sekolah

Meski tergolong baru memulai usaha ini sejak tahun lalu dengan beberapa aksesoris kecil yang baru diselesaikan sekitar bulan Mei karya Theodora sudah mulai dilirik. Pakaian-pakaian tari buatannya kerap disewa oleh anak-anak sekolah tingkat SMP dan SMA untuk keperluan menari Yospan, tari Wol, maupun upacara adat.

Untuk satu kali sewa baju tarian lengkap tersebut, Theodora biasa mematok harga Rp500.000. Kendati demikian, ia mengaku sejauh ini baru ada dua sekolah yang menggunakan jasanya. Ia pun belum pernah membawa karya-karyanya ke ajang pameran dan hanya mengandalkan sistem sewa di lingkungan terdekatnya.

Terkendala Alat Modern dan Mesin Bor

Meskipun memiliki potensi ekonomi dan pelestarian budaya yang besar, perjalanan Theodora bukan tanpa hambatan. Seluruh modal yang digunakan hingga saat ini merupakan modal swadaya alias uang pribadi. Model pengerjaannya pun masih sangat sederhana karena keterbatasan kepemilikan alat.

Ia mengaku sangat membutuhkan mesin jahit khusus untuk menyempurnakan potongan-potongan baju kayu Manduam tersebut agar lebih rapi dan kokoh. Tidak hanya itu, ia juga menyimpan banyak persediaan kerang di rumahnya yang direncanakan untuk diolah menjadi kerajinan anting dan kalung.

“Kerang-kerang ini ada banyak sekali di rumah. Tapi selama ini saya kewalahan, butuh seperti mesin bor untuk melubangi kerang buat anting dan kalung. Kendala saya di situ,” keluh perempuan berusia 47 tahun tersebut.

Melalui karya-karyanya, Theodora Mambrasar berharap ke depannya ada perhatian atau bantuan peralatan kerja modern. Fasilitas tersebut sangat ia butuhkan agar ia bisa terus memproduksi kerajinan tradisional Papua ini dengan kapasitas yang lebih besar dan kualitas yang lebih baik. (QB)