Mandiri dan Gratis, LPK Idaman Karya Mandiri Gelar Pelatihan Operator Alat Berat bagi 50 Pemuda OAP

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 22/04

JAYAPURA – Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Idaman Karya Mandiri resmi menggelar kegiatan seminar dan pelatihan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Operator Alat Berat bagi 50 peserta pencari kerja Orang Asli Papua (OAP).

Para peserta pelatihan ini berasal dari wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Sarmi. Sementara untuk Kabupaten Keerom direncanakan akan menyusul pada tahap berikutnya.

Kegiatan ini dibuka secara resmi melalui sambutan tertulis Wali Kota yang dibacakan oleh Kepala Dinas PUPR Kota Jayapura, Asep A.M. Khalid. Pembukaan tersebut juga dihadiri langsung oleh pimpinan penyelenggara, Idam Khalid dan Koordinator Lembaga, Monika Friska Wanma.

Praktek Langsung di Kampung Harapan

Rangkaian pelatihan ini dilaksanakan di dua tempat berbeda. Sesi materi teori diselenggarakan di hotel, sedangkan untuk sesi praktek lapangan dan pengoperasian alat berat dilakukan di kawasan Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, tepatnya di area belakang Stadion Lukas Enembe.

Syarat Mutlak Industri Pertambangan & Konstruksi

Dinas PUPR Kota Jayapura mengapresiasi penuh inisiatif ini. Pertumbuhan masif sektor konstruksi dan pertambangan di Papua dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang kerja yang sangat besar.

Namun, peluang ini belum termanfaatkan optimal oleh masyarakat lokal karena minimnya lisensi standar industri. Industri saat ini menuntut pekerja yang tidak hanya sekadar bisa mengoperasikan alat berat, tetapi juga paham aspek K3.

“Pekerjaan ini memiliki risiko yang sangat tinggi. Pemahaman K3 bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan utama untuk melindungi diri sendiri dan orang sekitar,” tegas Asep Khalid, di Jayapura, Rabu (22/4/2026).

Inisiatif Mandiri Tanpa Bebani Peserta

Koordinator antar lembaga dan Ketua Pengembangan SDM OAP PT Idaman Karya Mandiri, Monika Friska Wanma, mengungkapkan bahwa kegiatan ini murni dibiayai secara mandiri oleh tim putra daerah Papua yang peduli terhadap masa depan generasi muda.

“Kami tidak membebani biaya pelatihan ini secara full. Kami memberikan kemudahan dan keringanan besar untuk adik-adik OAP karena rata-rata mereka belum bekerja, bahkan ada yang tadinya berprofesi sebagai tukang ojek yang kami rangkul langsung dari jalanan,” ujar Monika saat diwawancarai.

Ia menambahkan, awalnya kuota pelatihan ini hanya dibatasi untuk 10 hingga 15 orang saja. Namun, melihat tingginya antusiasme pemuda Papua yang mendaftar, pihak lembaga akhirnya memutuskan untuk merangkul dan melatih seluruhnya hingga mencapai 50 peserta.

Target Siap Kerja dan Berhenti Jadi Penonton

Monika menegaskan bahwa sertifikasi yang didapatkan para peserta telah terakreditasi oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Hal ini menjadi modal kuat agar anak-anak Papua memiliki daya saing tinggi dan tidak kalah dari tenaga kerja luar.

“Sekarang perusahaan mengutamakan sertifikat K3 dan kompetensi resmi. Kami buat ini agar anak-anak OAP menjadi tenaga siap pakai dan bisa bersaing. Jadi mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton di atas tanah sendiri,” pungkas Monika.

Pihak LPK Idaman Karya Mandiri yang berpusat di Timika ini sebenarnya memiliki total 24 bidang keahlian (17 hard skill dan 7 soft skill). Moneka berharap ke depannya ada perhatian khusus dan dukungan dana dari pemerintah daerah agar pelatihan mandiri seperti ini dapat terus berlanjut untuk berbagai bidang keahlian lainnya di tanah Papua.

Sementara itu, Founder Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Timika, Idam Khalid, menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul bagi Orang Asli Papua (OAP). Melalui pelatihan ini, Idam berharap para peserta tidak sekadar dilatih secara formalitas, melainkan benar-benar mendapatkan bekal yang matang. Ia juga menyoroti maraknya pelatihan daring yang kurang efektif untuk sektor praktis seperti pertambangan.

“Banyak orang ikut pelatihan lewat Zoom di media sosial. Kami tidak bisa mempercayakan itu. Kami memberikan pelatihan langsung secara fisik agar mereka betul-betul siap. Tidak hanya hard skill atau fisik sesuai bidangnya, tetapi juga soft skill terutama kecakapan dalam berkomunikasi,” tutupnya. (QB)