Usai Terbentuk, LEMATA Akan Menuliskan Kembali Sejarah Pemekaran Kabupaten Tambrauw

Spread the love
Upacara dansa (serar) di Rumah Dansa (Amah Taro), saat menyambut para tamu dan undangan dari Staf Khusus Presiden Urusan Papua, Febiola Ohee bersama para peneliti dan akademisi dari berbagai kementerian dan universitas yang hadir disela-sela pembukaan kegiatan Musdat-LEMATA yang berlangsung di Distrik Fef, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, Kamis (19/1/2023)/ Istimewa

tvpapua.com, Jayapura, 22/01

Tambrauw – Dalam Musyawarah Adat Lembaga Masyarakat Adat Tambrauw (Musdat-LEMATA) yang berlangsung pada tanggal 18-21 Januari 2023 telah membahas sejumlah hal dalam komisi-komisi. Salah satunya, rancangan program kerja LEMATA.

Menariknya, dalam program yang ditetapkan ini ada program prioritaskan yang akan dilakukan dalam waktu dekat, yaitu menuliskan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw.

“Sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw selalu dikeluhkan oleh masyarakat adat di masing-masing suku di Tambrauw. Oleh karena itu, LEMATA sudah terbentuk dan telah menentukan program prioritas. Salah satunya adalah menuliskan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw,” ujarnya kepada wartawan usai pelaksanaan Musdat-LEMATA di Aula RSUD Pratama, Distrik Fef, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, Sabtu (21/1/2023).

Menurut Paulinus, penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw ini merupakan keluhan dan masukan dari para tokoh-tokoh pejuang Kabupaten Tambrauw dan seluruh masyarakat adat yang ada di masing-masing suku seperti Suku Abun, Miyah, Irires, Mpur dan Suku Biak di Kabupaten Tambrauw. 

Hal ini lantaran, selama ini para tokoh masyarakat adat Tambrauw ini merasa ikut terlibat memperjuangkan pemekaran Kabupaten Tambrauw, tetapi dalam sejarah pemekaran kabupaten ini tidak pernah disebutkan, bahkan didokumentasikan serta diabadikan dalam buku sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw.

“Penulisan kembali sejarah pemekaran di Kabupaten Tambrauw bukan ide LEMATA, tetapi ini merupakan masukan dari para tokoh pejuang pemekaran Kabupaten Tambrauw dan masukan dari masyarakat adat di Kabupaten Tambrauw,” tuturnya.

Paulinus mengungkapkan bahwa penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw akan melibatkan para intelektual Tambrauw yang selama ini berkecipung di akademisi, jurnalis, LSM dan intelektual muda lainnya yang peduli terhadap Kabupaten Tambrauw.

“Kami akan membentuk tim untuk menuliskan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw. Penulisan sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw ini akan ditulis secara profesional, sehingga semua pihak yang terlibat dalam pemekaran kabupaten bisa ditulis,” ungkapnya.

Alumnus Magister Tata Kota (Planologi) Universitas Gajah Madha (UGM) ini menyatakan, penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw ini akan didokumentasikan menjadi buku dan menjadi bahan bacaan bagi seluruh masyarakat adat di Kabupaten Tambrauw.

“Dengan publikasi buku penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw, maka akan mengembalikan kembali pemekaran Kabupaten Tambrauw yang dimulai dari para tokoh-tokoh masyarakat adat dan masyarakat adat di Kabupaten Tambrauw yang terlibat dalam memperjuangkan hadirnya Kabupaten Tambrauw,” kata Paulinus.

Sementara itu, Penulis Buku sekaligus Dosen Luar Biasa (LB) Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua, Roberth Yewen, S.Sos., M.Si merasa penting adanya penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw, sehingga para tokoh adat dan masyarakat adat yang waktu itu memperjuangkan Kabupaten Tambrauw bisa ditulis namanya kembali.

“Saya rasa ini penting untuk ditulis kembali, sehingga para tokoh adat yang dulu memperjuangkan pemekaran Kabupaten Tambrauw bisa ditulis kembali, sehingga kedepan tidak ada keluhan lagi dari masyarakat adat, sebab semuanya didokumentasikan secara profesional,” ujarnya.

Alumnus Universitas Cenderawasih, sekaligus Wartawan Kompas.com ini berharap, dengan adanya penulisan sejarah ulang pemekaran Kabupaten Tambrauw harus diinisiasi secara profesional oleh LEMATA dengan melibatkan semua pihak, terutama para intelektual yang ada di Kabupaten Tambrauw.

“Saya harapkan dalam penulisan kembali sejarah pemekaran Kabupaten Tambrauw ini semua pihak bisa dilibatkan, terutama anak-anak muda Tambrauw yang berasal dari masing-masing suku di Tambrauw yang dipilih secara representatif, sehingga penulisannya dilakukan secara profesional. Hal ini agar semua tokoh yang dulu memperjuangkan hadirnya Kabupaten Tambrauw ini bisa didokumentasikan dalam buku tersebut,” ujarnya. (QB)

Hello there
Leverage agile frameworks to provide a robust synopsis for high level overviews.
Hello there
Leverage agile frameworks to provide a robust synopsis for high level overviews.