Cegah Kepunahan Bahasa Ibu, Warga Kei di Perantauan Papua Meluncurkan Kamus Digital Pertama

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 31/07

JAYAPURA – Sebagai upaya nyata melindungi bahasa daerah dari ancaman kepunahan, warga keturunan Kei yang merantau di tanah Papua resmi meluncurkan Kamus Digital dan E-Book Bahasa Kei. Peluncuran yang dirangkaikan dengan Gelar Wicara (Talkshow) ini berlangsung khidmat di Aula Gedung Balai Bahasa Provinsi Papua pada Jumat (31/7/2026).

Inovasi literasi kebudayaan ini mencakup tiga karya sekaligus, yaitu Kamus Digital Bahasa Indonesia – Bahasa Kei, Kamus Bahasa Kei – Bahasa Indonesia, serta buku falsafah hidup orang Kei yang bertajuk “Misil Masal”.

Ketua Kerukunan Maturan/Maturbongs dan Larnasvak Jayapura, Dr. Laurentius Maturbongs, menyatakan, pihak kerukunan bertindak sebagai dinamisator dan penggerak utama agar peluncuran ini bisa terwujud.

“Kami memberikan dukungan penuh karena ini hal yang sangat positif. Kerukunan kami menaruh perhatian besar pada pendidikan dan pelestarian warisan budaya. Menariknya, kamus ini dikemas dalam formulasi digital dan e-book yang sangat kekinian, sehingga mudah dibawa dan diakses oleh siapa saja di mana pun berada,” ujar Dr. Laurentius.

Ia menambahkan, kehadiran kamus digital ini juga diharapkan dapat mendukung program pemerintah daerah di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara dalam mendorong kurikulum muatan lokal bahasa daerah di sekolah-sekolah.

Lahir dari Rahim Perantauan setelah 16 Tahun

Koordinator Kegiatan, Dr. Everestus Silitubun, menjelaskan, peluncuran ini merupakan momentum penting untuk memberi sugesti dan mengingatkan generasi muda Kei di perantauan akan pentingnya bahasa ibu sebagai identitas diri.

“Sebagian besar kami lahir dan besar di luar (Kei). Kadang-kadang identitas menjadi hilang, padahal bahasa menunjukkan identitas diri. Kegiatan ini menjadi momen pengingat bahwa bahasa ibu itu sangat penting,” kata Dr. Everestus.

Sementara itu, perwakilan tim penulis dan penyusun kamus, Anton Maturbongs, membeberkan, proses panjang penyusunan ini sebetulnya sudah dimulai sejak 16 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2010. Edisi cetak pertama sempat diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 2012 dan berlanjut ke tahun 2014.

“Hari ini kami luncurkan dalam bentuk aplikasi e-book agar bisa langsung dibaca di HP para pengguna. Ini kontribusi kami dari Jayapura untuk tanah leluhur. Di Kei sendiri belum pernah ada penyusunan kamus bahasa Kei, kamilah yang pertama, dan uniknya ini ditulis oleh anak-anak rantau yang lahir besar di tanah Papua,” ungkap Anton.

Kamus ini disusun oleh tim yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat budaya, di antaranya Anton Maturbongs dan Christoforus Renwarin, serta memberikan penghormatan kepada tiga anggota tim penyusun yang kini telah berpulang, yaitu Almarhum Christ Fautngil, Almarhum Pastor Izaak Resubun, dan Almarhum Don Flassy.

Semasa hidupnya, Almarhum Don Flassy yang menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Riset Papua (LRP)—lembaga bentukan Gubernur Bas Suebu—berkontribusi besar sebagai tim editor buku “Misil Masal” karena ketertarikannya mendokumentasikan rumpun Melanesia.

Menjembatani Tantangan Dialek

Dalam proses wawancara dengan para informan di masa lalu, Anton mengakui timnya sempat menghadapi tantangan karena bahasa Kei memiliki dua dialek utama, yakni dialek Kei Besar dan Kei Kecil. Namun, tim penulis berhasil mengambil jalan tengah.

“Solusinya, kami ambil dialek yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua orang Kei, dan hal itu bisa diterima dengan baik. Tantangan lain seperti kendala sponsor percetakan justru memicu kami berinovasi beralih ke format digital format e-book agar publikasi tetap berjalan,” pungkas Anton.

Melalui aplikasi e-book ini, siapa saja kini dapat mengakses dan belajar bahasa Kei dengan mudah demi memastikan bahasa ibu tersebut tidak akan punah ditelan zaman. (QB)