Stafsus Menko Polkam Tantang Pemuda Papua Bikin ‘Legacy’ Lewat Cetak Biru ‘Papua Cerah 2030’

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 28/07

JAYAPURA – Staf Khusus (Stafsus) Kemenko Polkam RI sekaligus Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS), Dr. Stepi Anriani, S.IP., M.Si., menantang pemuda Papua untuk tidak sekadar berkumpul, melainkan melahirkan warisan nyata (legacy).

Pemuda Papua diminta menyusun Rencana Strategis (Renstra) pembangunan versi pemuda yang bertajuk “Papua Cerah 2030” demi mengawal Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Dialog Kepemudaan DPD KNPI Provinsi Papua. Acara tersebut mengusung tema “Kolaborasi Pemuda Papua Mengawal Asta Cita Menuju PAPUA CERAH 2030 dan Indonesia Emas 2045”, yang digelar dalam rangka HUT ke-53 KNPI sekaligus konsolidasi menuju Rapimpurda dan Musda XV DPD KNPI Provinsi Papua di Jayapura, Selasa (28/7/26).

Mengawali arahannya, Dr. Stepi memberikan apresiasi tinggi terhadap pidato Ketua DPD KNPI Provinsi Papua, Benyamin Gurik. Ia bahkan menyebut Benyamin memiliki potensi besar sebagai pemimpin masa depan Tanah Papua.

“Mendengar pidatonya tadi luar biasa, saya merinding. Mungkin the next governor ya, mudah-mudahan 10 atau 20 tahun ke depan bisa jadi Gubernur Tanah Papua. Terus miliki integritas, jangan berubah, perbaiki, dan upgrade terus diri,” ujar Dr. Stepi di hadapan ratusan kader KNPI.

Ia juga menekankan bahwa di era modern ini, kecerdasan intelektual saja tidak lagi cukup tanpa didukung oleh jaringan yang kuat.

  • Center of Network: Jadikan KNPI sebagai rumah kedua dan pusat jejaring bagi seluruh pemuda.
  • Center of Knowledge: KNPI harus menjadi pusat menimba ilmu terapan yang tidak didapatkan pemuda di bangku perkuliahan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Stepi menyampaikan dua pesan khusus dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI untuk diadopsi oleh pemuda Papua.

Pesan pertama adalah kewajiban untuk jujur kepada diri sendiri mengenai kelebihan, kekurangan, serta kebutuhan yang dihadapi. Ia mencontohkan sosok Aman Kogoya, seorang pemuda asal Wamena sekaligus anggota KNPI Papua Pegunungan yang viral di media sosial karena kemandiriannya berkebun tanpa mengeluh kepada pemerintah.

“Dia bilang kita tidak bisa minta uang, mencuri uang, dan hidup mandiri ini tanggung jawab kita sendiri. Kita tidak bisa salahkan pemerintah atau orang tua atas kondisi kita. Kita harus bekerja dan berusaha,” tuturnya menirukan kisah inspiratif tersebut.

Ia membakar semangat para peserta agar momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang menjadi pembuktian lahirnya pemuda-pemuda pelopor dari ujung timur Indonesia.

“Jangan berkecil hati karena merasa minoritas atau berada di ujung timur. Justru kita balik situasi ini. NKRI ini, ‘Mamah’-nya adalah Tanah Papua. Ibarat rumah tangga, jika Mamah sedih atau menangis, maka tidak akan sejahtera. Tanah Papua ini harus kita peluk, kita hormati, dan kita sejahterakan bersama,” tegasnya.

Selain itu, ia menyelipkan pesan emosional agar para pemuda yang belum menikah senantiasa berbakti dan menghormati orang tua selagi mereka masih ada.

Pesan kedua dari Menko Polkam yang ditekankan adalah pentingnya KNPI menghasilkan produk pemikiran yang konkret bagi pembangunan daerah. Dr. Stepi mendorong KNPI Papua segera menggelar 2 hingga 3 kali Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan cetak biru pembangunan “Papua Cerah 2030” ke dalam bentuk policy brief (rekomendasi kebijakan).

“Nanti setelah policy brief itu selesai, saya siap mengantar dan memfasilitasi adik-adik pemuda Papua untuk bertemu langsung dengan Mendagri, Menko Polkam, atau Menko Kominfo. Kita tunjukkan apa saja kegelisahan pemuda Papua dan solusi yang ditawarkan,” janji Dr. Stepi.

Di akhir pemaparannya, Dr. Stepi mengingatkan tantangan global baru yang sedang dihadapi generasi muda saat ini, yakni era cognitive warfare atau peperangan kognitif.

Ia menjelaskan bahwa pasca-pandemi COVID-19, algoritma media sosial telah berubah drastis, di mana konten-konten yang berisi caci maki dan kata-kata kasar cenderung mendapatkan panggung yang lebih luas. Oleh karena itu, pemuda KNPI dituntut untuk cerdas, bijak, dan tidak terjebak dalam arus polarisasi digital tersebut.

Sebagai informasi, dialog ini dihadiri sekitar 250 peserta dari pengurus KNPI Kabupaten/Kota serta pimpinan OKP di Papua. Acara ini menghadirkan empat panelis dari unsur akademisi, legislatif, eksekutif, dan Ketua Yayasan Colo Sagu. Keempatnya membedah peluang serta tantangan bonus demografi Papua dari perspektif ekonomi lokal, representasi legislatif adat, perencanaan daerah, hingga ekonomi pembangunan inklusif. (QB)