Sejarah Baru, Museum Uncen Berhasil Repatriasi Ribuan Benda Budaya Papua dari Amerika Serikat

Spread the love

tvpapua.com, Jayapura, 06/08

JAYAPURA — Museum Universitas Cenderawasih (Uncen) menorehkan sejarah baru di Tanah Papua. Melalui inisiatif komunitas dan kerja sama lokal, museum berhasil memulangkan (repatriasi) ribuan benda budaya asli Papua yang selama hampir tiga dekade berada di Amerika Serikat.

Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu, SE., M.Sc.Ag, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada pemilik koleksi di Amerika atas kembalinya barang-barang yang akan menjadi bahan edukasi penting bagi generasi muda Papua.

“Jumlah dan jenis koleksi yang dipulangkan hasil penelitian di wilayah Pegunungan Papua meliputi, 1.200 artefak budaya, Lebih dari 20.000 foto, 100 rekaman suara, berbagai dokumentasi ilmiah,” ujarnya, Kamis (6/8/26).

Menurutnya koleksi ini akan melengkapi Museum Loka Budaya dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mempelajari budaya Papua.

“Kehadiran koleksi bersejarah ini mendorong Universitas Cenderawasih untuk merencanakan renovasi hingga pembangunan gedung museum baru yang lebih representatif. Gedung baru ini nantinya tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga pusat pelestarian budaya Papua,” jelasnya.

Peristiwa ini menjadi momentum sangat penting karena merupakan proses repatriasi benda budaya pertama yang dilakukan secara mandiri di Tanah Papua, tanpa melalui mekanisme birokrasi pemerintah pusat.

Koleksi berharga ini awalnya dikumpulkan oleh mendiang O. W. (Bud) Hampton, seorang antropolog dari University of Colorado, Amerika Serikat. Beliau melakukan penelitian intensif di wilayah Pegunungan Papua sejak tahun 1982 hingga 1999.

Selama kurun waktu tersebut, Hampton mengumpulkan lebih dari 1.200 artefak budaya melalui sistem pembelian dan barter dengan masyarakat adat di berbagai wilayah khususnya di Pegunungan Papua, antaralain, Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, Nduga, Yalimo.

Setelah Hampton wafat pada tahun 2017, beliau meninggalkan wasiat agar seluruh koleksinya dikembalikan ke tanah asalnya di Papua. Amanat tersebut kemudian diurus oleh Trading Foundation, sebuah yayasan di California yang dipimpin oleh Dr. Sandra Saryono dan Prof. C. Fatih. Yayasan ini menghabiskan waktu dari 2017 hingga 2022 untuk melakukan pendataan, konservasi, dan penataan koleksi secara profesional.

Proses repatriasi resmi dimulai setelah Museum Uncen menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada tahun 2023. Kepala Museum Uncen, Enrico Yory Kondologit, S.Sos., M.Si, mengakui bahwa jalur mandiri ini menghadapi tantangan administrasi yang sangat panjang.

“Bagi kami, ini merupakan pengalaman pertama. Selama ini proses repatriasi umumnya dilakukan melalui Kementerian Kebudayaan dan melibatkan hubungan antarnegara. Sementara proses yang kami lakukan ini merupakan inisiatif komunitas,” ujar Enrico dalam laporan resminya.

Untuk memastikan keamanan artefak, seluruh koleksi dikirim sekaligus dari Amerika Serikat menggunakan jalur laut pada 25 Mei 2026. Setelah menempuh perjalanan hampir satu bulan, logistik kebudayaan tersebut tiba di Jakarta pada 19 Juli 2026.

Usai melewati proses pemeriksaan bea cukai selama dua minggu, seluruh dokumen dan manifes dinyatakan bersih. Koleksi tersebut akhirnya tiba dengan selamat di Museum Uncen, Jayapura, pada awal Agustus 2026. Keberhasilan misi ini didukung penuh oleh pembiayaan dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya serta pendampingan langsung dari Dewan Adat Papua dan DPRD Kabupaten Jayawijaya.

Sesuai kesepakatan bersama, Museum Uncen kini berperan sebagai pusat penyimpanan (center hub) sementara untuk seluruh koleksi tersebut. Ke depan, Museum Uncen akan bernegosiasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan serta pemda terkait untuk membangun museum daerah. Tujuannya agar artefak-artefak ini bisa dipamerkan di tempat asalnya sebagai sarana edukasi, riset, dan pelestarian.

Langkah ini juga menjadi pembuka pintu bagi program repatriasi berikutnya. Museum Uncen mengonfirmasi bahwa mereka tengah menjalin komunikasi dengan lembaga di Belanda untuk menandatangani MoU pemulangan sekitar 3.500 koleksi benda budaya Papua lainnya pada tahun depan. (QB)